Senin, 01 April 2013

Inovasi Pendidikan (Kurikulum Diferensiasi)


Kurikulum Diferensiasi=====1. Pengertian Kurikulum. Ada banyak kalangan yang beranggapan bahwa kurikulum berhubungan dengan materi ajar, sehingga kurikulum selalu dikaitkan dengan buku-buku pelajaran. Jika kita runut dari awal, sebenarnya istilah kurikulum berawal dari istilah olah-raga pada zaman Yunani kuno yang berasal dari kata curir dan curere yang kemudian dimaknai sebagai jarak tempuh yang dilakukan oleh seorang pelari. ====== Sementara Sukmadinata (2006 : 5) membedakan antara kurikulum sebagai rencana (curriculum plan) dengan kurikulum yang fungsional (functioning curriculum). ===== Sebagai suatu rencana pendidikan atau pengajaran.===== Menurut Beauchamp, pelaksanaan rencana tersebut sudah termasuk dalam pengajaran. Sementara menurut Zais, kurikulum tidak dapat dinilai dari dokumen tertulisnya saja, melainkan harus dinilai dalam proses pelaksanaan fungsinya dalam kelas. ===== Sedangkan S. Nasution (2008: 5) menjelaskan kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses berlajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggunga jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya. Kurikulum adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah, jadi selain kegiatan kulikuler yang formal juga kegiatan yang tak formal. ===== Untuk mendapatkan rumusan tentang pengertian kurikulum, para ahli mengemukakan pandangan yang beragam. Dalam pandangan klasik, lebih menekankan kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. =========George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa: “ A Curriculun is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school”. ==========Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935) yang mengatakan bahwa kurikulum … to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers. Dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974) yang mengatakan bahwa : “ …the curriculum has changed from content of courses study and list of subject and courses to all experiences which are offered to learners under the auspices or direction of school. ===== Untuk mengakomodasi perbedaan pandangan tersebut, Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu:1. Kurikulum sebagai suatu ide; yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian, khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan.==== 2. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide; yang didalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu.=== 3. Kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis; dalam bentuk praktek pembelajaran.==== 4. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik.====== Sementara itu, Purwadi (2003) memilah pengertian kurikulum menjadi enam bagian : (1) kurikulum sebagai ide; (2) kurikulum formal berupa dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dan panduan dalam melaksanakan kurikulum; (3) kurikulum menurut persepsi pengajar; (4) kurikulum operasional yang dilaksanakan atau dioprasional kan oleh pengajar di kelas; (5) kurikulum experience yakni kurikulum yang dialami oleh peserta didik; dan (6) kurikulum yang diperoleh dari penerapan kurikulum.===== Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dapat dilihat dalam Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 19, menyatakan bahwa: “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu” (diakses dari www.muniryusuf.com/.../pengertian-pendidikan-kurikulum-diferensiasi Written by Munir Yusuf on February 2, 2010 — Leave a Comment). ========= Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana yang berisi standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan, isi, bahan pelajaran, cara yang digunakan, dan semua komponen yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan (pendidik, peserta didik, sarana dan prasarana, laboratorium, perpustakaan, gedung sekolah, lingkungan sekolah, jongos sekolah dan lain-lain) yang berfungsi sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. =========== 2. Fungsi Kurikulum, Hamalik (2007:13) menyatakan bahwa kurikulum memiliki beberapa fungsi yaitu : (1) Fungsi penyesuaian, (2) Fungsi pengintegrasian, (3) Fungsi diferensiasi, (4) Fungsi persiapan, (5) Fungsi pemilihan, dan (6) Fungsi diagnostik. ===== a)Fungsi Penyesuaian (The Adjustive of Adaptive Function). Individu hidup dalam lingkungan. Setiap individu harus mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya secara menyeluruh. Karena lingkungan senantiasa berubah dan bersifat dinamis, maka masing-masing individu pun harus memiliki kemampuan menyesuaikan diri secara dinamis pula. Dibalik itu, lingkungan pun harus disesuaikan dengan kondisi perorangan. Di sinilah letak fungsi kurikulum sebagai alat pendidikan, sehingga indi¬vidu bersifat well-adjusted.==== b)Fungsi Integrasi (The Integrating Function). Kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi.
Oleh karena individu sendiri merupakan bagian dari masyarakat, maka pribadi yang terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam pembentukan atau pengintegrasian masyarakat.===== c)Fungsi Diferensiasi (The Differentiating Function).Kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap pebedaan di antara setiap orang dalam masyarakat. Pada dasarnya, diferensiasi akan mendorong orang berpikir kritis dan kreatif, sehingga akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat. Akan tetapi, adanya diferensiasi tidaf berarti mengabaikan solidaritas sosial dan integrasi, karena diferensiasi juga dapat menghindarkan terjadinya stagnasi sosial.===== d)Fungsi Persiapan (The Propaedeutic Function).Kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk suatu jangkauan yang lebih jauh, misal melanjutkan studi ke sekolah yang lebih tinggi atau persiapan belajar di dalam masyarakat Persiapan kemampuan belajar lebih lanjut ini sangat diperlukan, mengingat sekolah tidak mungkin memberikan semua yang diperlukan siswa atau apa pun yang menarik perhatian mereka.====== e)Fungsi Pemilihan (The Selective Function).Perbedaan (diferensiasi) dan pemilihan (seleksi) adalah dua hal yang saling berkaitan. Pengakuan atas perbedaan berarti memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang diinginkan dan menarik minatnya. Kedua hal tersebut merupakan kebutuhan bagi masyarakat yang menganut sistem demokratis. Untuk mengembangkan berbagai kemampuan tersebut, maka kurikulum perlu disusun secara luas dan bersifat fleksibel.===== f)Fungsi Diagnostik (The Diagnostic Function).Pendidikan adalah membantu dan mengarahkan siswa untuk mampu memahami dan menerima dirinya, sehingga dapat mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Hal ini dapat dilakukan jika siswa menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimilikinya melalui proses eksplorasi. Selanjutnya siswa sendiri yang memperbaiki kelemahan tersebut dan mengembangkan sendiri kekuatan yang ada. Fungsi ini merupakan fungsi diagnostik kurikulum dan akan membimbing siswa untuk dapat berkembang secara optimal. (forumguruhebat.blogspot.com/Tio dalam blog Forum Guru Hebat)======= 3. Proses Pengembangan Kurikulum. Kurikulum pada dasarnya berfungsi sebagai pedoman terutama bagi pendidik di setiap jenjang pendidikan pada tingkat satuanya masing-masing, oleh karenanya ada sejumlah prinsip dalam proses pengembanganya. Berikut ini beberapa prinsip dalam pengembangan kurikulum yaitu (1) Prinsip relevansi. (2) Prinsip fleksibilitas (3) Prinsip kontinuitas (4) Prinsip efisiensi, dan (5) Prinsip efektifitas.===== (a)Prinsip Relevansi.Kurikulum sebagai pedoman akan membawa siswa untuk dapat memaknai hidup sesuai dengan aturan hidup yang ada di masyarakat dan membekali siswa baik dalam bidang pengetahuan, sikap maupun keterampilan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat. Oleh karenanya dalam penyusunan kurikulum yang didapat melalui pengalaman belajar siswa, kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat dan inilah yang dinamakan prinsip relevansi.Relevansi sendiri terbagi menjadi dua, yaitu relevansi internal dan relevansi eksternal. Wina (2008 : 39) Relevansi internal adalah bahwa setiap kurikulum harus me-miliki keserasian antara komponen-komponennya, yaitu keserasian antara tujuan yang harus dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian tujuan. Relevansi internal ini menunjukkan keutuhan suatu kurikulum.====== Relevansi eksternal memiliki makna bahwa antara tujuan, isi, dan proses belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum seyogiyanya sesuai dengan kebutuh¬an dan tuntutan masyarakat. Menurut Wina (2008 : 39) dalam pengembanganya relevansi eksternal terbagi menjadi tiga: Pertama, relevan dengan lingkungan hidup peserta didik. Artinya isi kurikulum hendaknya disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar siswa. Misalkan untuk siswa yang tinggal di perkotaan perlu dikenalkan kehidupan lingkungan perkotaan seperti bagaimana cara menyebrang yang baik pada zebra cross, pelayanan jasa : pembayaran Air, Listrik, Telepon baik secara manual maupunonline dan sebagainya. Kedua, relevan dengan perkembangan zaman baik sekarang maupun dengan yang akan datang. Artinya, isi kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Selain itu juga apa yang diajarkan kepada siswa harus bermanfaat untuk kehidupan siswa pada waktu yang akan datang. Ketiga, relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan. Artinya, bahwa apa yang diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi dunia kerja. Misalkan pembelajaran Internet yang diajarkan pada siswa, memiliki tujuan bahwa suatu saat nanti apa yang telah diajarkan dapat memberikan manfaat di masyarakat, terutama dalam mengahadpi kemajuan teknologi informasi.===== (b)Prinsip Fleksibilitas. Prinsip ini lebih menekankan tentang perlunya sifat fleksibel atau kelenturan, prinsip ini dirasa perlu karena bisa jadi apa yang kita harapkan dalam kurikulum ideal tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya di masyarakat artinya kurikulum harus dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada. ====== Menurut Wina (41:2008) Prinsip fleksibilitas memiliki dua sisi: Pertama, fleksibel bagi guru, yang artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisi yang ada. Kedua, fleksibel bagi siswa, artinya kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa.====== (c)Prinsip Kontinuitas. Kontinuitas yang dimaksud disini adalah berkesinambungan, artinya perkembangan proses belajar itu tidak terputus-putus tapii berkesinambungan-terus menerus.
Oleh karenanya pengalaman yang meski ada dalam isi kurikulum harus memperhatikan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan. Untuk itu pengembangan kurikulum meski dilakukan secara bersama-sama antara pengembang kurikulum pada setiap jenjang pendidikan sekolah dasar, jenjang SLTP jenjang SLTA, dan pengembang kurikulum pada perguruan tinggi.====== d. Praktis (Efisiensi).Kurikulum praktis dikatakan baik jika memenuhi prinsip efisiensi yang berhubungan dengan tenaga, waktu, sarana, dan biaya yang dikeluarkan semurah mungkin dan hasil yang diperoleh dapat maksimal. Karena sehebat dan seideal-idealnya kurikulum namun jika peralatan, sarana dan prasarana sangat mahal harganya, maka kurikulum tidaklah praktis dan akan sulit untuk di implementiiskan, oleh karenanya kurikulum meskinya harus dirancang utnuk dapat digunakan dalam situasi apapun (keadaan terbatas).e). Efektifitas.Kurikulum disamping harus murah dan sederhana, bukan lantas mengindahkan faktok keberhasilan yang ingin dicapai dari kurikulum itu sendiri baik secara kualitas maupun kuantitas. Karena pengembangan kurikulum merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan. Menurut Wina (2008:4) Prinsip efektivitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Terdapat dua sisi efektivitas dalam suatu pengembangan kurikulum. Pertama, efektivitas berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. Kedua, efektivitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. (forumguruhebat.blogspot.com/Tio dalam blog Forum Guru Hebat)====== 4. Diferensiasi berarti bahwa suatu produk atau jasa memiliki tidak saja keberbedaan dengan produk atau jasa yang sudah ada, melainkan juga merupakan titik keunggulan dibandingkan yang lainnya itu. Tetapi, diferensiasi tidak berarti ‘asal berbeda’, sehingga kalau sudah berbeda berarti pasti memiliki titik keunggulan yang dimaksud.===== 5. Kurikulum Diferensiasi (a) Kurikulum diferensiasi adalah kurikulum yang memberi pengalaman pendidikan yang disesuaikan dengan minat dan kemampuan intelektual siswa (Ward, 1980). (b)Kurikulum diferensiasi adalah kurikulum yang menantang sesuai dengan kemampuan siswa. Kurikulum yang mempunyai karakter cepat belajar, mampu menyelesaikan problem lebih cepat maupun keunggulan lain. (c). Kurikulum berdiferensiasi adalah kurikulum nasional dan lokal yang dimodifikasi dengan penekanan pada materi esensial dan dikembangkan melalui sistem eskalasi yang dapat memacu dan mewadahi secara integrasi pengembangan potensi peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. 

Tugas Portofolio 3


Abstrak
Membaca Ekstensif dan Membaca Intensif
Ahfi Hikmawati, A 310120002. Makalah. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta 2013, 10 halaman.

Pada dasarnya keterampilan dalam berbahasa meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata atau bahasa tulis. Membaca juga dapat diartikan sebagai suatu metode yang kita pergunakan untuk berkomunikasi dengan diri kita sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain. Ketika membaca kita membuat bunyi dalam kerongkongan kita, kita akan berbicara lebih cepat kalau kita tahu bagaimana cara mengatakan serta mengelompokkan bunyi-bunyi tersebut. Oleh karena itu guru mempunyai peranan penting untuk membantu serta membimbing para pelajar untuk mengembangkan serta meningkatan keterampilan-keterampilan yang mereka butuhkan dalam membaca. Dilihat dari sudut cakupan bahan bacaan yang dibaca membaca, dapat kita golongkan kedalam dua jenis, yakni membaca ekstensif (extensive reading) dan membaca intensif (intesive reading). Dalam Dictionary of Reading (1983:112) disebutkan membaca ekstensif merupakan program membaca yang dilakukan secara luas. Menurut Broughton (1978) sebagaimana dikutip oleh H.G. Tarigan (1979:31) membaca ekstensif meliputi tiga jenis membaca, yakni membaca survey (survey reading), membaca sekilas (skimming), membaca dangkal (superficial reading). Sedangkan membaca intensif merupakan studi seksama, telaah teliti. Membaca intensif meliputi dua jenis, yakni membaca telaah isi dan telaah bahasa. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengertian, macam, dan manfaat dari kegiatan membaca itu sendiri. Serta mampu memahami dan menerapkan ketika dalam kegiatan membaca. Metode yang digunakan adalah dengan diskriptif kualitatif.  Hasil dari membaca ekstensif dan intensif bisa diukur dengan kecepatan membacanya.

Kata Kunci: extensive reading, intesive reading, survey reading, skimming, superficial reading, membaca telaah isi dan membaca telaah bahasa.
    

Kamis, 14 Maret 2013

KaryaKu,..


Kelinci Dan Beruang
Suatu hari ada seekor kelinci yang dibuang oleh majikannya di sebuah hutan yang luas.
Kelinci             : (Menangis),… Dimana aku sekarang,….????
                         Jahat sekali majikanku membuang diriku begitu saja di hutan ini.
Tiba-tiba ada 2 ekor beruang yang sedang berjalan-jalan dan mendengar tangisan.
Beruang 1        : Dodo,.. Kamu mendengar ada yang menangis tidak,…???
Beruang 2        : Iya Didi,… aku mendengarnya,… Ayo coba kita cari tau,…!!!!
Bertemulah kelinci dengan 2 ekor beruang.
Beruang 1        : Ada apa denganmu,…????
Kelinci             : Aku tersesat di hutan ini, aku di buang oleh majikanku,….
Beruang 1        : Aduh,… Kasihan sekali,… Malang sekali nasib kamu,…!!!
Beruang 2        : Ya sudah,… Kamu ikut kita saja,… Jangan khawatir,.. kita hewan yang baik   kok,…!!!
Beruang 1        : Kenalin dulu, namaku Didi.
Beruang 1        : Namaku Dodo.
Beruang 1+2   : Namamu siapa,…???
Kelinci             : Namaku Reuli,…
Dengan hati yang tulus, kedua beruang itu mengajak kelinci untuk tinggal bersama.
Beruang 2        : Disinilah biasanya kita tinggal.
Beruang 1        : Lebih baik kamu istirahat saja terlebih dahulu disini.
Kelinci             : Terima kasih ya,… Maaf aku sudah merepotkan kalian,….
Beruang 1        : Iya, tidak apa-apa,…
Merekapun tertidur dengan lelap.
Keesokan harinya.
Beruang 1        : Perut q lapar sekali kawan,….
Bagaimana kalau kita cari makan,…
Beruang 2        : Iya aku juga lapar nih,…
Kelinci             : Iya, ide yang bagus,…
                        Ayo, kita berangkat,…
Beruang 1+2   : Oke,… Lets go,…
Didalam perjalanan, mereka sambil  bernyanyi bersama,…
Ketiganya        : Lalalalalalala,….. Lalalalalalala,…. Lalalalalalala,…..
Beruang 1        : Sebelah sini kawan,… Ini ada makanan yang lumayan enak,…
Beruang 2        : Iya,.. benar juga.
+kelinci
Beruang 1        :Reuli, Kamu kan bisa manjat ke atas pohon kan,…?? Tolong dong ambilin buah semangka di atas.
Kelinci             : Iya, sebentar ya,… aku makan dulu,… soalnya aku lapar sekali.
Kedua beruangpun menunggu kelinci selesai makan.
Kelinci             : Akhirnya, kenyang juga diriku,…
Karena kenyang, kelincipun terlelap tidur. Dan membiarkan temannya dalam kondisi lapar. Kelinci lupa akan pertolongan yang sudah diberikan oleh kedua beruang. Karena jengkel dan kesal, kelinci menjadi santapan beruang.
Beruang 1        : Wah, tidak tau terima kasih,… Udah di tolong giliran kita minta tolong malah diabaikan.
Beruang 2        : Iya, benar juga,… Lebih baik kita bunuh saja dia.
Beruang 1        : Iya benar sekali.
Kelincipun di bunuh dan menjadi santapan beruang.

PuisiKu


KENANGAN TERINDAH

Pertama terasa tersudut
disaat kau datang
Rasa kesal dan sebalpun menghampiri diriku
dengan tingkah lakumu
Awalnya kau memberikan kesan baik pada kita semua

                        Akan tetapi lambat laun waktu berjalan
                        tingkah lakumu semuanya berubah
                        Kesan baik tercoreng dengan perilaku burukmu
                        membuat kekecewaan pada kita semua

Kenangan indah tentang dirimu
Membuat selalu terkenang dengan indah pada kita semua
Kenangan yang takkan mungkin dilupakan
Selamat jalan kawan….. Semoga kita sukses…..

Senin, 11 Maret 2013

Tugas Reproduksi. Makul Membaca Komprehensif

Tugas Reproduksi. Mata Kuliah Membaca Komprehensif. Novel Delusi karya Supaat I. Latief, coba menggali, mengungkapkan, dan menawarkan sebuah kisah tentang potret anak desa dengan segala aspek kepercayaan. Dan segala aspek yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat pedesaan di Jawa. Menikmati novel Delusi ini seakan-akan kita sebagai pembaca diseret kembali pada masa tiga puluh-empat puluh tahun silam. Dimana alam lingkungan masih relatif rimbun. Udara bersih. Air dan tanah belum banyak tercemar bermacam-macam pestisida. Desa Woh namanya. Desa yang masih sangat senyap karena listrik dan televisi belum masuk desa. Sarana hiburan anak-anak desa hanya sungai dan sawah. Kegiatan anak-anak desa adalah mandi berlama-lama di sungai, mengail ikan, atau mencari belut di sawah.. Supaat I. Latief melukiskan masa lalu itu secara baik pada diri Madun dengan segala kenakalannya. Juga pada Pri, dan Qin, kawan bermain Madun. Desa Woh adalah desa yang masih kental dengan budaya nenek moyangnya. Yaitu membuat makanan untuk sesajen. Kegiatan inilah yang masih turun menurun dan masih dilakukan oleh masyarakat desa itu. Dengan kepercayaan kalau masyarakat membuat sesajen akan makmur kehidupannya dan dijauhkan dengan segala bencana. Ketika tidak membuat sesajen akan tiba bencana besar yang melanda desa itu. Berbeda dengan Desa Legi, Desa yang paling dekat dengan Desa Woh. Desa legi adalah desa yang sudah lebih banyak kemajuannya. Pendidikan di Desa Legi sudah ada beberapa tahun yang lalu. Orang-orang yang ada di Desa Legi lebih banyak mementingkan kebersamaan dan kegotongroyongan. Kehidupan beragama sudah mulai tercipta meski belum sempurna. Suatu ketika ada warga Desa legi yang tampan dan gagah tubuhnya. Namanya Karmin. Sudah banyak orang tua yang ingin mengambilnya sebagai menantu. Namun Karmin seolah masih enggan untuk memulai kehidupan rumah tanggga. Suatu hari Karmin ingin bermain dengan kawan-kawannya. Dia berjalan sambil mencari teman-temannya. Sampai ditempat yang biasanya dibuat nongkrongpun tidak ada. Karmin hanya terus berjalan, dan akhirnya sampai perbatasan antara Desa Legi dan Desa Woh. Karmin bertemu dengan gadis yang berjalan kearah dia berdiri. Bertemulah Karmin dengan gadis itu. Pasinem namanya. Setibanya dirumah, Karmin bercerita dengan Bapak dan Ibunya. Tanggapan dari Bapak dan Ibu Karmin adalah seolah tidak merestui hubungan dengan Pasinem yang berasal dari Desa Woh. Alasannya adalah karena tradisi yang ada di Desa Legi menganggap kalau perjodohan orang-orang Desa Legi dengan orang Desa Woh akan berakibat buruk. Karmin seolah ingin menentang tradisi yang masih dipercaya oleh masyarakat sekitar. Sehingga ia mencari pandangan pada orang yang lebih bisa dipercaya. Berkunjunglah Karmin beserta teman-temannya ke rumah Pak Kuwat. Dengan percayanya Karmin langsung bertanya akan perjodohan antara orang Desa Legi dan orang Desa Woh yang akan menimbulkan kesengsaraan. Pak Kuwat menjelaskan dengan gamblang sampai Karmin mampu memahami. Sepulang dari rumah Pak Kuwat, Karmin menjelaskan pada Bapak dan Ibu. Akhirnya Bapak dan Ibu Karmin tidak mampu mengelak akan keinginan dari Karmin. Kemudian menikahlah Karmin dengan Pasinem. Mereka hidup sangat bahagia. Bahkan jauh dari kata sengsara atau buruk yang sering dibicarakan oleh banyak masyarakat. Kebahagiaan itu lengkap dengan lahirnya anak lelaki yang diberi nama Madun. Keluarga itu tinggal di Desa Woh yang dianggap masih kental dengan budaya nenek moyangnya. Asal mula Desa Woh adalah suatu hari ada sepasang suami istri yang tersesat di hutan dan tak tau jalan untuk kembali pulang. Namanya adalah Ki Wasesa dan Karti. Mereka melihat hutan yang penuh akan kekayaan alam. Mulailah mereka menyisir hutan dan sekaligus membangun rumah yang sangat sederhana. Tempat yang dipergunakan sebagai berteduh ketika siang dan malam hari. Mereka menikmati sekali kehidupan di hutan yang sangat bergantung dengan alam. Kebahagiaan mereka lengkap dengan lahirnya anak perempuan yang sangat cantik. Anak yang diberi nama Kartili. Tanpa dirasa betul Kartili tumbuh menjadi gadis dewasa. Banyak pinangan yang berdatangan pada Kartili, akan tetapi Kartili seolah tidak menghiraukan. Sampai datang pinangan dari Surono namanya. Kartili seolah tertarik akan ketampanannya. Ki Wasesa yang mengetahui hal tersebut langsung menikahkan mereka, dengan syarat Surono dan Kartili harus tinggal di hutan bersama. Surono yang benar-benar jatuh cinta pada Kartili langsung mengiyakan syarat dari Ki Wasesa. Menikahlah mereka dan tinggal bersama dihutan dan membangun rumah yang berada di samping rumah Ki Wasesa dan Karti.Tanpa disangka dalam hitungan bulan banyak pendatang baru yang terus berdatangan. Dorongan dari orang-orang pada Ki Wasesa untuk memberi nama Desa yang menjadi tempat tinggal mereka. Apabila ada sanak saudara yang ingin berkunjung dapat lebih mudah mencarinya. Diberilah nama desa yaitu Desa Woh. Suatu ketika Madun (anak dari Karmin dan Pasinem) penasaran dengan sesajen yang sering kali dibuat oleh masyarakat Desa Woh. Masyarakat Desa Woh yang mempunyai tradisi membuat sesajen di depan rumah-rumah, di perempatan, di pinggir kali, di atas batu besar, atau di tengah sawah-sawah lengkap dengan panganan mentah atau yang sudah matang. Keinginan Madun muncul ketika dalam kondisi yang sangat lapar di sawah bersama Bapaknya ingin sekali mengambil makanan sesajen itu. Diambilnya dengan rasa yang percaya diri dan dimakannya. Bapaknya yang mengetahui langsung menyuruh Madun untuk pulang, agar tidak diketahui oleh warga sekitar. Sesaat setelah Madun makan makanan sesajen, ia jatuh sakit. Perutnya sering kali muntah dan kondisi badan semakin pucat. Ibu Madun yang khawatir langsung panik dan cepat-cepat mencari obat untuk Madun. Sesampai ibu di warung untuk membeli obat ternyata banyak anak Desa yang sakit sama seperti yang diderita Madun. Obatnya saja sudah habis dibeli oleh ibu-ibu yang anaknya juga sakit seperti Madun. Ibu dan Bapak Madun menduga kalau yang terjadi di Desanya adalah balak dari danyang desa. Dugaan hanya sekedar dugaan ibu hanya beharap tidak terjdi apa-apa pada keluargnya. Akhirnya Madun sembuh dari sakit yang diderita bersama teman-temannya. Ulah Madun tidak terhenti sampai disini saja. Madun masih ingin juga mengambil sesajen itu. Meskipun sudah dilarang oleh orang tuanya, dan larangan dari Pemangku Adat. Madun dan Kawan-kawannya tetap mengambil sesajen itu. Ketika di Desa Woh mengadakan upacara adat yang disertai sesajen berupa makanan yang bermacam-macam, kembang dan penari-penari jaranan.. Madun dan Kawan-kawan mengikuti upacara itu. Madun dan Kawan-kawan hanya memperhatikan sesajen. Tiap ada langkah untuk bisa mendekati sesajen itu Madun dan Kawan-kawan semakin mendekat. Hingga sampai di depan sesajen. Ulah yang dilakukan Madun dan Kawan-kawannya adalah tetap dengan prinsip awal yaitu mubadzir untuk membuang makanan yang enak-enak itu. Lebih baik kita makan dari pada busuk dimakan lalat dan hilang sedikit demi sedikit dimakan burung. Ulah Madun diketahui oleh Pemangku Adat. Akan tetapi ulah dari Madun tidak mendapat reaksi apa-apa dari Pemangku Adat. Pemangku Adat menganggap kalau Madun dan Kawan-kawannya masih terlalu dini untuk diberi hukuman adat dan belum tahu akan adat di Desa. Wargapun tidak mampu berbuat apa-apa hanya bisa menggunjingkan dengan warga lain. Ulah Madun semakin menjadi-jadi. Tanpa sembunyi-sembunyi mereka memakan sesajen itu. Tidak takut bila danyang desa marah. Kondisi Desa Woh berubah seketika datang guru dari Desa lain yang akan mengajarkan pada anak-anak di Desa Woh. Namanya Pak San dan Bu Nis. Mereka yang akan memberikn ilmu pengetahuan pada anak-anak di Desa Woh. Mengajarkan akan pengetahuan agama pada Tuhan yang menciptakan bumi dengan segala isinya. Lambat laun dalam proses pembelajaran anak-anak Desa Woh sedikit mampu memahami. Pak San dan Bu Nis hanya sekedar berpesan kalau suruh mengajak semua keluarga dan tetangga untuk belajar pada Pak San dan Bu Nis agar juga mengetahui akan ilmu agama. Akhirnya sesuai waktu yang berjalan warga banyak yang sudah mempercayai akan keberadaan Tuhan, dan sedikit sudah tidak mempercayai akan sesajen seperti dahulu kala. Walaupun tetap menghargai akan budaya dari nenek moyang. Ketika malam hari setelah ba’dal maghrib Pak San mengadakan acara kecil-kecilan yang berbentuk seperti pengajian. Dirumah yang cukup sederhana Pak San mengundang seluruh warga Desa untuk berdo’a bersama dirumahnya. Acara yang juga cukup sederhana hanya dengan suguhan minuman air pituh didalam kendi dan gelas yang seadanya. Pada acara dirumah Pak San, beliau menyampaikan sedikit ceramah akan ilmu agama. Warga serentak sanagt perhatian dan antusias. Senang dengan apa yang selalu diajarkan pada anak-anak mereka. Hingga bisa merubah semua kondisi Desa Woh kearah yang benar sesuai islam Berbeda dengan acara yang dipagi harinya ada Upacara Adat lengkap dengan sesajen yang mewah dan diiringi dengan penari dan musik. Ketika acara do’a bersama di rumahnya Pak San, beliau mengajak para warga untuk tiap minggunya mengadakan do’a bersama dengan sistem bergilir ditiap rumah warga. Walaupun dengan suguhan yang sederhana. Acara itu dibuat bukan untuk menuntut tuan rumah supaya menyediakan suguhan yang enak-enak. Akan tetapi mampu menangkap isi dari acara itu. Akhirnya warga juga menyetujui usulan dari Pak San, dan sanggup untuk menjadi tuan rumah. Pak San juga mengusulkan pada Pak Kades untuk pembuatan masjid sebagai tempat sembahyang para warga. Pak Kades menerima usulan dari Pak San. “Dan dana untuk pembuatan masjid bisa menggunakan uang anggaran Desa. Bagi para warga jika memiliki waktu untuk membantu dalam proses pembangunan bisa juga membantu dengan tenaga”, kata Pak Kades. Warga langsung bergerak cepat ketika pembangunan masjid dimulai. Seusai sekolah anak-anak tidak ingin bermain lagi. Mungkin juga atas komando dari Pak San yang menganjurkan utuk membantu warga membangun masjid. Biarpun sederhana dan setengah terlihat belum selesai, warga sudah warga sudah menempatinya untuk berjama’ah bersama. Madun dan Kawan-Kawan sudah tidak lagi berburu makanan sesajen, aktivitas mereka kini lebih banyak di masjid. Atau paling tidak, jika menghendaki bermain bersama, mereka lebih senang bermain di tanah lapang sebelah masjid bersama anak-anak desa yang lain. Nama : Ahfi Hikmawati NIM : A.310120002 Kelas : 2A Website : www.ahfiathifa.blogspot.com